Semalem, ketika rumah gw diguyur oleh hujan rintik-rintik, dan suara gemericiknya digantikan oleh suara bokap gw yang karaokean, gw tiba-tiba ngerasa pingin membuka kembali buku kumpulan puisi gw yang pernah gw buat waktu SMP.
Setelah mengubek-ubek buku-buku gw di rak, akhirnya gw menemukan buku yang gw maksud. Sampulnya pink. Buku biasa, sih…
Tapi isinya puisi-puisi iseng gw dulu…
Nih, gw tulis aja deh… puisi gw yang pernah gw ikutin lomba (menang, loh! Hahahaha
)
Seutas Tali Terakhir
Tangan kecil itu tak kulihat lagi
Tangan kecil yang menengadah di neraka sarang semut
Tangan kecil itu milikmu, semut kecil tak bersarang
terinjak-injak dan tertindas
Sekeping logam, emas bagimu
surga yang dapat mendatangkan sungai susu
Berlonjak-lonjak mencebur ke dalamnya
Pahit rasanya
aku tak memberi seutas tali untukmu
untuk kau panjat
mendaki tebing di langit ke tujuh
Tapi kereta itu telah lewat
meninggalkanku
Kau tenggelam di dasar danau yang dalam
Cerminku jadi hancur
lebur
terlihat penuh debu
Kutahu kau sudah berada di negeri yang tak teraba
melayang-layang meninggalkan pahatan kenangan
meninggalkan bunga-bunga kisah
meninggalkan jejak di atas pasir yang tersapu ombak
Seutas tali terakhir dariku
untuk menemanimu mendayung perahu
Puisi ini punya arti tersendiri juga, loh. Gw inget, dulu waktu itu gw lagi diem-dieman sama temen gw. Yah, karena hal sepele.
Tapi gw ngerasa nggak enak. Dia kan temen gw…
Nama temen gw itu Kiki Valentina Simanjuntak. Nah, kebeneran, dia ikut lomba puisi ini juga.
Pas pengumuman, gw menang, dia juga menang! Kesempatan gw buat pedekate lagi… (aih aih aih… hahahaha
)
Gw telepon, deh, si Kiki…
Gw: Halo…
Kiki : Halo…
Gw: Dian, Ki…
Kiki: Kenapa, yan? (datar)
Gw: Ki, elo menang, loh, lomba puisinya…
Kiki: Oh, ya? Yang bener, loh? Bohong, yah? (setengah gak percaya)
Gw: Bener, Ki…
Kiki: Yang bener, yan??? (Ini si Kiki udah mulai ketawa-ketawa) Beneran???
Gw: Bener, Ki.. Hebat loh…!
Kiki: Lo tau dari mana, yan? Gimana ceritanya??? Hehehehe, gw kaget loh, yan… bla bla bla… (dan obrolan berlanjut dengan hangat dan membahagiakan..
)
Nah, selain puisi itu, ada juga, nih, puisi yang gw tulis waktu gw udah mau lulus dari SMP gw… SMP 2 Bandar Lampung…
Sekolah
Kau tahu betapa bangganya aku
menjadi bagian dari dirimu?
Ribuan insan dari segala penjuru
memujamu
Ribuan makhluk dari planet terasing
memujimu
Walau mata tertipu kala melihat dirimu
Tapi yang aku tahu, kau membangunkan ombak dalam diriku
Di sana, bintang terlihat terang dan jelas
sangat jelas
Kau ubah bata menjadi istana
Kau beri lentera dalam gelapnya dunia
Kau topang aku…
Nanti,
kala kau muncul dalam ingatanku kembali
Aku mau kau lebih merindukanku
Merindukan derap langkah kakiku
demi Sang Ibu
Sekolah,
ingatlah aku selalu
tunggulah aku kembali
setelah Ibu Pertiwi tersenyum
Hehehe, agak lebay, sih, puisinya. Tapi gak papa. Lebih baik mengekspresikan sesuatu dengan bentuk yang indah begini, kan?
Kemudian…
Gw menemukan puisi cinta gw! Puisi cinta monyet!!! Hahahahahahahaha
Cinta
Kutahu cinta adalah bunga hidup tak terkendali
tumbuh dalam keliaran jiwa yang penuh dengan
kemisteriusan
Hanya saja, di dalamnya
beribu pahatan kenangan
Kala kau tak mengetahui bunga yang akan kuberi
Kala kau hilang dalam kesenjaan
Kala kau menebarkan indahnya alam semesta
Tapi yang aku tahu,
hanya mimpi bersamamu
paling indah….
Bila waktunya tiba,
maukah kau mengelus sedikit rambutku?
Agar aku tidak merasa lenyap
dalam pengembaraanku bersamamu
Agar semua bunga-bunga kisah
tidak terhapus dalam kenangan
Menikmati perasaan cinta kala denganmu
adalah yang terindah
ketika kau dalam kesendirian
dan penuh tanda tanya
Inget puisi ini, jadinya mau ketawa-ketawa terus. Bayangin, dong, anak SMP kucluk-kucluk gitu udah nulis-nulis puisi cinta begini…
(gw nulis begini kayak bukan gw aja yang nulis puisinya, yah… hehehe)
Ini puisi gw dulu, buatnya di rumah Aprilia Rahmawati, temen sekelas gw. Dulu gw suka sama seseorang, tapi gak berani mengutarakannya… (jangan kaget, gw emang cewek pengecut kalo urusan ginian :) )
Setelah baca puisi cinta ini, gw jadi keinget sama tulisan gw di salah satu diary.
Tentang cinta juga, tapi sebenernya gw tadinya gak berniat nulis puisi. Mau nulis diary aja. Eh, tapi gak taunya kata-katanya jadi puitis gini. Mirip puisi, deh. Tentunya perasaan ini mungkin lebih dalam dari puisi cinta monyet gw itu, soalnya gw bikinnya selang beberapa tahun kemudian.
Somewhere, 28 Juli xxxx
21:55 PM
Malam tenang.
Yang ada hanya jarum jam berdetak.
Oh, malam. Maukah engkau dengarkan hatiku?
Agar malam ini tidak terlalu sunyi.
Agar malam ini tidak terlalu sepi.
Tak kudengar suara jawaban.
Hanya kelam yang semakin merambat hitam.
Lebih baik aku mulai saja.
Ada seorang pria.
Pria yang datang tak diminta.
Pelan-pelan, sembari menyelinap, menyusup mebalik tirai-tirai cintaku, mengetuk pintu hatiku.
Dia mungkin tak sadar. Dia mungkin tak sengaja.
Hanya mencoba menengok kerabatnya yang lain, singgah kesana, membawa seluruh pesona dirinya.
Dia tahu dia sudah punya pondok sendiri.
Dia sadar sudah punya kamar sendiri.
Tapi kadang ia singgah ke gubuk hatiku, menghiasnya dengan segala perangainya, mengisinya dengan sentuhannya.
Dia mungkin tak sadar. Dia mungkin tak sengaja.
Mungkin baginya aku hanya pemilik gubuk yang kekurangan cinta untuk mempercantik eksterior maupun interiornya.
Mungkin baginya aku hanya…
Ah, bukan siapa-siapa….
Tapi, bagiku dia begitu berarti, begitu spesial
Dia yang telah kembali menghidupkan cahya dalam gubukku yang sebentar padam.
Dia yang telah kembali membuatku merenovasi gubukku yang sebentar stagnan.
Dia yang telah kembali meramaikan gubukku, berkunjung ke dalamnya, meramaikan suasananya.
Tapi kenapa begitu cepat ia kembali?
Kembali ke pondoknya lagi.
Pondoknya lebih nyaman baginya daripada gubukku.
Di gubukku, masih tertinggal cahya darinya
masih terlihat jejak-jejak sepatunya
Di gubukku, semuanya akan tertinggal terbekas
Hingga suatu hari nanti, bila ia bertandang kembali
entah mau menjadikan gubuk ini gubuknya
atau hanya sekedar minum teh dan mencicipi biskuit sekedar
Ia bisa tersenyum, karena ada bagian dari dirinya
bagian gubuk ini juga.
Entah apakah hanya sekedar mengaguminya
atau pun mencintainya
Selalu mendoakan yang terbaik untuknya
Malam masih sepi. Sunyi.
Hanya jarum jam berdetak.
Tuhan, jadikan aku manusia kuat yang selalu bahagia.
Wew.
Ternyata membaca karya kita terdahulu itu menyenangkan juga.
Terus, puisi gw yang sekarang mana, dong?
Kalo puisi gw yang sekarang, mah, jangan dikasih liat siapa-siapa atuh… Biar tambah antik, nilai jualnya makin tinggi… Hahahahaha
*ngelesnya canggih amat, yah.. bilang aja nggak ada…
Gw jadi makin seneng dengan kegiatan gw yang satu ini; menulis. Sebenernya banyak lagi, sih, kegiatan lain yang mengeksplor kreativitas kita. Dan memang kegiatan yang berhubungan dengan kreativitas sangat menyenangkan bagi gw.
Makin penasaran gw, eksplorasi imajinasi sendiri, dari pikiran dan organ kita sendiri. Hmmm.
Jadi inget salah satu kutipan dari Albert Einstein:
Ilmu pengetahuan terbatas, imajinasi melingkupi dunia.
Yuk, berkreasi!
Filed under: Uncategorized | Leave a Comment »





