Hallowww….!!!!
Setelah sekian lama akhirnya gw menulis lagi di blog gw tercinta ini
Oke, gw beberapa hari yang lalu dengerin radio, nih… Ceritanya ada band asal Lampung yang baru go national di wawancarai sama penyiar radionya. Nama band-nya Coin Band…
Sekilas wawancara yang terjadi di radio tersebut:
Penyiar radio : Hai, Coin Band…!
(Kita sebut saja dia X,
biar hemat…
maklum krisis global…)
Coin Band : Hai…
X : Gimana proses bikin album perdananya di Ancol?
Coin Band : Alhamdulillah, lancar…
X : Yang jadi aktris di video klipnya siapa, sih?
Coin Band : Si Intan Ayu. Itu, tuh… mbak ‘pis, lov, n gaulll…’
Hmm… mendengar berita itu, gw jadi sedikit bangga dengan Lampung gw tercinta ini. Paling engga, sekarang ini band asal Lampung udah mulai bergairah go national, bahkan go international! Sebut saja mereka Kangen Band, Coin Band, Hijau Daun, Jenderal Band, dan lain- lain dan lain-lain dan lain-lain. Gw berharap aja semoga generasi Lampung makin eksis dalam berbagai bidang. Bidang musik, bidang pendidikan, bidang sastra, bidang miring… eh.
Tetapi, jikalau kita menilik dari pembangunan kota Bandar Lampung dan sekitarnya, yang timbul dalam dada ini adalah ironi. (ceilah… bahasa gw canggih ngga?)
Iya, gw serius. Kalo dibandingin dengan kota-kota lain di Indonesia yang pernah gw kunjungi, Bandar Lampung ini kurang megah kalo berada di level “Ibukota Provinsi”.
Mall-mall yang ada di Bandar Lampung jaraknya deket-deketan, jalan kaki 10 menit aja lo udah bisa maen estafet dari mall satu ke mall laennya. Entah kenapa mall-mall itu seneng banget deket-deketan, gw berharap aja mereka ngga homoseksual (lho?)
Ini mall-mall yang gw tau berada di Bandar Lampung:
Moka (Mall Kartini) di Jalan kartini
Simpur Center di Simpur
Plaza Lotus di deket Gramedia
Chandra di deket Ramayana
Ramayana di deket Chandra…
**** di Jalan Kartini
dll.
Trus, sebagai orang yang pernah membaca info lowongan kerja di Bumi Ruwa Jurai ini, lowongan kerja di provinsi ini dikit banget. Gw sering ngga nemu perusahaan yang lagi butuh karyawan. Entah karena memang udah penuh, atau perusahaan yang ada di Bandar Lampung ini sedikit? Dengan kata lain sedikit investor yang mau nanemin modal di LampungQuwh ini.
Menurut analisis gw, nih… Pusat perekonomian penduduk Bandar Lampung itu suempiiiitttt pit pit pit, jadinya investor ngga berani bangun usahanya, terutama usaha yang mengandalkan minat konsumen—kaya mall ini, lah—jauh-jauh dari pusat yang bergairah. Coba, deh, lo jalan-jalan di Lampung. Radius 10 kilo dari Bandar lampung itu udah ngga kota-kota amat lagi (alias ndeso… palagi malem-malem, ada juga yang lampu jalannya mati…). Di pusat kota juga tata kota dan masalah kebersihan agak-agak ngga oke.
Trus, kalo lo baru nyampe di Pelabuhan Bakauheni, lo bakal di sambut dengan pemandangan alam yang sangat asri dan tampak jarang terjamah (alias pembangunan di daerah ini sedikit seret… contohnya jalan raya banyak bolong-bolong…)
Padahal, sebagai provinsi “Gerbang Sumatera”, gw pikir mestinya Lampung bisa lebih dari sekarang ini. Lalu kenapa?
Kenapa?
Kenapa?
Kenapa?
Tanyalah pada rumput yang baru aja dimakan si-embek…
Well, mungkin ini cuma coret-coret anak kemaren sore yang ngga ngerti apa-apa. Di luar itu, gw bangga, kok, jadi bagian dari Lampung. Nah, untuk itu kita sebagai generasi bangsa ini harus terus menggali berbagai potensi yang ada dalam diri kita masing-masing. Supaya entar berguna buat diri kita sendiri, orang-orang terdekat kita, provinsi kita, negara kita, bangsa kita, bumi kita, bahkan jagat raya ini!
Dan ujung-ujungnya gw mau ngajak kawan-kawan dari seluruh penjuru nusantara buat ikutan lomba cerpen yang diadain Telkomsel. Liat aja di “Pengumuman”. Lumayan, kan, buat ngasah potensi kita sebagai insan yang kreatif dan berbudaya. Tertarik?
Filed under: my mind | Tagged: band asal lampung, bandar lampung, lampung, lomba cerpen, mall di bandar lampung

